Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Viral Sensasi Berbagi Istri Demi Teman 2
Iklans.com - “Dengan bokong sepadat ini.. Dan..” lanjutnya sambil tangannya terus merayap ke depan melewati lipatan pahaku, kemudian berhenti menggenggam benda bulat panjang milikku yang sudah tegang membesar. Dan..
“Dengan pistol segede ini..” katanya sambil meremas gemas, “.. Aku tak rela kalau semua ini menjadi milik orang lain..”
Sambil berkata begitu, mata Bahar terus menatapku, serius. Mata dan alis mata itu laksana burung elang. Tajam dan menusuk. Aku sampai menelan ludah membalas tatapannya.
“Hmm..” kataku kemudian sambil menghela nafas, “Apakah Abang juga bisa menjaga ‘ini’ agar tidak bandel?” balasku sambil meremas miliknya yang ukurannya juga sudah membesar.
“Siapa yang mau dengan barang seram begini” katanya sambil menyentakkan pantatnya ke depan sehingga batang kemaluannya ikut maju dan hampir terbetot keluar dari genggamanku.
“Justru yang seperti ini yang dicari orang” kataku makin gemas, “Awas kalau dipakai macem-macem!”
“Terus bagaimana caranya supaya tak bandel?” logat Sangirnya mulai keluar.
“Ditinggal saja di sini” kataku sambil menahan tawa.
“Boleh!, tapi.. Bagaimana caranya?” balasnya tak mau kalah.
“Caranya.., simpan saja di sini..” kataku sambil menarik kantung zakarku ke atas sehingga tampak celah kecil di tengah-tengah dua bukit pantatku.
Muka Bahar langsung berubah merah. Beberapa kali kudengar ia menghela nafas. Hidungnya pun mulai memperdengarkan suara dengusan. Bagai banteng yang siap bertarung. Rupanya aku sudah membangunkan hasrat si banteng.
Bibirnya kemudian menyungging senyum dan kepalanya mengangguk-angguk tanda mengerti. Rupanya guyonanku telah menyadarkannya bahwa semalam dia masih punya hutang padaku. Dan siang ini aku ingin semua hutangnya dibayar tuntas!
Posisiku masih duduk di pinggiran bak mandi, setinggi pinggul Bahar yang juga masih berdiri mengangkang di antara kedua gempal pahaku.
“Bagaimana?” kataku mencoba memecah kebisuan.
Bahar rupanya sudah tak mau berbasa-basi lagi. Dengan sigap, diangkatnya kedua pahaku ke atas melewati kedua bahunya, sehingga selangkanganku kini terpentang lebar dan punggungku rebah menggantung hampir menyentuh permukaan air di bak mandi. Aku agak kewalahan dan dengan kedua siku tanganku aku mencoba bertumpu pada tepian sudut yang lain.
Sejenak kemudian mulai kurasakan lembutnya busa sabun yang dioleskan ke seluruh daerah di bawah kantung pelirku. Rupanya Bahar mencoba membasuh daerah itu dan sekaligus ingin merangsangku dengan menggunakan sabun mandi. Makin lama busanya makin banyak dan meleleh, menetes-netes ke lantai kamar mandi. Suara tetesannya berpacu dengan suara desahan kami berdua.
Artikel Terkait
Diperlakukan seperti itu, ingatanku langsung melayang pada kisah yang pernah diceritakan Bahar. Tampaknya dia ingin mengulang pengalamannya ketika pertama kali mengenal anal seks dengan seorang pelaut Portugis (Baca ‘Oase’ sebelumnya). Hanya kali ini, akulah sebagai si pelaku pengalaman pertama itu sedangkan dia gantian bertindak sebagai ‘si Portugis’.
Bagaimana detail ceritanya antara Bahar dan Portugis, aku lupa. Namun usapan jari-jarinya seperti memandu kembali ingatanku. Dimulai ketika jari tengahnya mulai menelusup, keluar masuk memperlonggar jalan yang akan mengantarnya ke kenikmatan tak berujung. Kemudian telapak tangan yang lainnya kurasakan terus sibuk mengusapkan busa sabun ke daerah selangkanganku, lalu bergerak naik ke kedua bola adam milikku dan berakhir di sekujur batang pejalku yang kini sudah sangat keras. Gerakannya kemudian turun lagi ke bawah, mengusap lagi ke atas, mengurut, memijat demikian seterusnya. Aku benar-benar terangsang hingga badanku beberapa kali bergidik cukup keras. Lanjut baca!

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...